Goceng Pertama (part1)

September 13, 2009 at 10:34 am (Artikel) (, , , , )


Namaku Pram…Pram Priyambodo. Aku hanyalah seorang mahasiswa tingkat dua salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Umurku pun tak jauh berbeda dengan teman-teman sebayaku, hanya saja yang membuat berbeda…terkadang aku merasa iri melihat mereka. Pergaulan mereka yang terlalu sehat bagiku seakan membuatku merasa menjadi manusia terbodoh di dunia ini. Rasa inginku untuk menjadi bagian dari mereka selalu terngiang di dalam benakku. Andaikan aku tak mengenal ‘Goceng Pertama’, tentunya aku tak akan seperti ini.
Malam yang kian larut seolah memaksa langkahku untuk segera pulang ke istanaku meninggalkan hingar-bingar kehidupan kampus yang mulai sepi ditinggalkan anak cucu Adam dan Hawa yang menggali ilmu di sini. Bus jurusan Depok-Grogol sudah setia berhenti di depan kampus, dengan langkah pasti kaki-ku menaiki titian tangga bus kota. Kulihat kernet bus dengan cekatan menagih ongkos dari para penumpang tanpa memperdulikan kehadiranku, begitu juga dengan penumpang yang lainnya. Mereka seakan tidak perduli dengan keberadaanku di bus ini. Tapi ya sudahlah, tanpa memperdulikannya aku segera menuju bangku di deretan paling belakang. Tak berapa lama, bus pun mulai bergerak melaju menembus kehidupan malam kota Jakarta.
Dalam perjalanan kucoba layangkan setiap pandanganku ke ruas-ruas jalan. Pada saat bersamaan penumpang lain yang duduk di sampingku dengan sigap mengeluarkan selembar uang gocengan dari saku celananya. Kontan diriku menoleh dan memperhatikannya. Seketika segumpal daging bermuatan sel-sel syaraf di kepalaku memutar sebuah memori tentang kehebatan dari selembar uang bergambar pahlawan perjuangan itu. Selembar gocengan yang memperkenalkan aku akan kebiadaban hasutan iblis. Gocengan itu pula yang berhasil membuatku terbuai akan aroma khas yang menyengat.

-Altov johar-

Siang itu di kampus, semua teman-temanku berkumpul seperti biasanya. Memang tidak bisa dipungkiri kalau kehidupan anak kampus yang notabene hanya nongkrong-nongkrong saja, itu pun tidak semuanya. Mungkin hanya aku dan teman-temanku yang termasuk ke dalam komunitas itu. Sambil tersenyum mafhum kurogoh saku celana jeansku yang sudah usang dimakan usia.
“Nih saham dari gua,” ujarku. “Emang sudah terkumpul berapa?”
“Pokoknya tenang aja Pram. Lo tau beres deh,” jelas Sam sambil menghitung lembaran uang di genggamannya. “Gua jalan dulu ya.”
Sedetik kemudian kulihat Sam pergi menunggangi kuda bermotornya. Jelasnya hari ini akan kuhampiri surga melalui tetesan air kenikmatan.

Getaran bus akibat menghantam lubang besar menyadarkanku dari lamunan. Dengan cekatan kulayangkan pandanganku ke luar jendela. “Tampaknya masih jauh,” pikirku. Kembali kuperhatikan penumpang seisi bus. Terlihat wajah-wajah yang penuh dengan rasa letih dan lelah setelah satu hari penuh beraktivitas. Sedangkan aku? Aku hanya sibuk menghabiskan waktuku untuk sesuatu yang tak jelas arah tujuannya.
Tanpa sengaja mataku tertuju pada dua insan yang duduk tak jauh dariku. Sepasang kekasih yang megingatkanku pada Shelly—pacarku. Sesosok wanita cantik yang selalu menemaniku dalam keadaan suka maupun duka.
“Pram, semua tuh gak ada untungnya. Coba kamu pikirin, apa gunanya coba setiap hari kamu mabuk-mabukan? Malah banyak ruginya, kan. Please…demi aku, kamu mau kan tinggalin semua itu,” tutur Shelly.
Pengaruh alkohol yang begitu kuat dalam rangkaian syaraf di otak-ku membuat nasihat Shelly tak ubah hanya kuanggap bagaikan angin belaka yang berhembus membelaiku. Tanpa memperdulikan kedua malaikat di pundak kanan dan kiri yang siap mencatat segala perbuatanku, kutampar wajah Shelly, lalu kudorong tubuhnya sampai terjatuh.
Kulihat Shelly menitikkan butiran-butiran bening dari sudut matanya. Sedetik kemudian butiran itu sudah berlinang membasahi kedua pipinya. Ia hanya bisa tertunduk dalam kebisuan. Sedangkan aku tak usung bagaikan seonggok sampah busuk yang menjelma menjadi manusia, yang terlalu angkuh untuk tidak ingin mendengarkan nasihatnya. Bagiku hanya goceng pertama-lah yang mampu membahagiakan perasaanku. Dengan goceng pertama aku bisa bebas terbang melayang berfantasi tentang pasal-pasal kehidupan yang kusuka.

Hembusan angin malam yang kian menusuk persendian tulang kembali menyadarkanku dari lamunan. Bersamaan dengan itu kuperhatikan seorang lelaki paruh baya menaiki titian tangga bus. Dengan santainya ia duduk di atas pangkuanku. Refleks aku menghindar dari tindihan badannya yang bisa dibilang super big size. Sambil misuh-misuh kupandangi lelaki itu dari ujung kaki sampai ujung kepala, lalu…

“Apa kamu liat-liat!”
Dosen statistik yang terkenal kejam kalau memberi tugas menegurku sambil mengelus jenggotnya yang jarang-jarang. Padahal mataku tak sengaja memandangnya. Bisa dibilang, mungkin karena cairan alkohol yang masuk ke dalam tubuhku sudah menyatu dan mengalir bersama darahku, sehingga wajar saja kalau setiap orang aku perhatikan polahnya.
“Nggak kok pak. Siapa juga yang ngeliatin bapak,” jawabku bohong.
Namun sial, bukannya Dosen itu pergi, ia malah bertanya macam-macam kepadaku.
“Itu mata kamu merah kenapa? Kamu mabuk, ya?”
“Aduuh, bapak tuh nuduh orang terus, ya. Tadi saya dituduh ngeliatin bapak. Sekarang bapak nuduh saya mabuk. Bapak kenapa sih? Sentimen banget sama saya. Lagian mata saya yang merah, kok malah bapak yang ribet?”
Dosen statistik yang semula hanya berniat bertanya, kini mulai berang melihat polahku yang sudah mulai tak terkendali. Serta-merta Dosen tersebut pergi meninggalkanku dengan mengantongi perasaan geram di hatinya.

Malam itu pun aku kembali bergabung dalam kenikmatan hembusan asap selinting ganja dan aroma khas tetesan air mansion bersama teman-temanku. Kamar kost Sam yang berukuran segi empat serta sempit dan sumpek menjadi saksi kehebatan kedua barang haram itu. Gelak tawa pun menghiasai malam yang semakin larut, laksana langit yang malam itu dihiasi awan gelap.
Sam menuangkan minuman ke gelasku. “Ayolah Pram, masa segitu doang sih. Masih banyak nih.”
Tanpa banyak bicara lagi, kuteguk minuman itu. Sesaat Sam tersenyum. “Mantaapp! Pokoknya kalau sudah habis kita beli lagi.”
“Gaasss Teruss!” sahut Villy.
Seketika ruhku terasa terbang melayang mengelilingi jasadku setelah cairan tersebut mengalir ke dalam rongga tenggorokan dan menyelinap ke pusat syaraf otak-ku. Aku semakin tak mengerti dengan apa yang sedang kucari melalui semua ini. Kenikmatan semata, rasa kepuasan, atau hanya egoku saja yang menganggap semua ini sebagai suatu kebahagiaan.
Kulirik Sam, Andi dan Villy dengan hebatnya menghisap dalam-dalam asap marijuana. Terdengar lirik lagu “No Woman No Cry”-nya kepunyaan Oom Bob Marley mengiringi kesenangan mereka akan barang itu. Kalau dipikir-pikir, kelakuanku dan teman-temanku tak ubah bagaikan budak-budak belian yang bebas dari pasungan para majikan. Bebas lepas tanpa beban melakukan apa pun sesuka hati. Mungkin inilah ideologi kami dalam menjalani sebuah kehidupan, dan tanpa kusadari sesaat mataku terpejam berharap akan buaian mimpi-mimpi malam yang dapat membawaku ke suatu tempat dimana aku bisa terbang melayang bersama bidadari-bidadari kecil di sebuah taman yang indah…

to be continued…

Iklan

5 Komentar

  1. alamendah said,

    pertamaaaaaxxxxxxzzzz

    • Septa said,

      Numpang bin nagkel….. Pertamaxxxx

      • altov said,

        numpang bin glantungan…. pertamaxxx jugaxxx

  2. alamendah said,

    salaaaamm kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: