Aku dan Pohon Tua Itu

Januari 26, 2010 at 7:50 pm (Artikel) (, , , , , , , , )


Kilat mulai menyambar dengan dasyatnya. Tapi tak juga kujumpai tetesan air yang turun dari langit, padahal aroma khas tanah basah sudah menyelinap kedalam hidungku. Lalu, kupandangi pohon tua tepat di hadapanku, seraya meledek ke arahnya. “Hmm, pasti kau sedih karena air hujan yang kau tunggu tak kunjung turun. Sudahlah, itu memang sudah nasibmu. Sekarang tinggal kau tunggu saja orang yang sudi menyirammu.”

Kuteguk kopi hitam yang sudah mulai dingin di cangkir usang tepat di sampingku. Minuman yang kini menjadi teman setia dikala malam tiba. Kembali ku hisap dalam-dalam rokok yang sempat tak kuperhatikan keberadaanya, sambil kembali menoleh ke arah pohon tua yang sedang sedih itu dengan rasa sesal.

“Hai pohon tua, maaf kalau aku berbicara seperti itu kepadamu. Bukan maksudku untuk menghinamu disaat rasa harapmu begitu besar.”

Pohon tua itu hanya diam membisu. Ya, itulah pohon, dia memang tak bisa berbicara. Tapi entah mengapa, kali ini ia seakan berbicara kepadaku. Malahan, kini ia membalas menghinaku. “Sudahlah itu memang nasibmu. Sekarang tinggal kau tunggu saja orang yang sudi menolongmu,” ujarnya.

Aku terperanjat. “Hei, aku ini makhluk yang sempurna, sedangkan kau makhluk yang tak punya akal dan budi. Jangan kau ceramahiku. Berani sekali kau berbicara seperti itu terhadapku!”

“Ya, memang, kau makhluk Tuhan yang paling sempurna. Tapi nasibmu tak jauh berbeda denganku. Penuh rasa harap yang berkepanjangan dan tak ada penyelesaian akan harapan itu,” balasnya.

Kontan aku menyatukan kedua alisku. “Darimana kau bisa tahu kalau aku juga sedang berharap? Dirimu saja tidak bisa bergerak, hanya diam terpaku di situ, dan sekarang kau dengan lancangnya menebak isi hatiku.” Sesaat, sisa-sisa dedaunan yang masih melekat di batang pohon tua itu pun bergoyang berirama, tertiup angin yang berhembus.

“Hei manusia sombong, kau tahu? Hampir tiap malam kuperhatikan dirimu. kau hanya duduk termangu di bangku itu, bercengkrama dengan minumanmu dan lintingan perusak paru-paru itu. Apa lagi yang kau harapkan, kalau bukan sebuah pekerjaan. Iya, kan?” Tebaknya. “Buat apa kau sekolah tinggi-tinggi, namun akhirnya kau masih saja dihantui rasa harap akan sebuah pekerjaan?”

Emosiku pun semakin memuncak. “Kau tahu makhluk tak berakal?” Sahutku ketus, dengan nada tinggi. “Aku sekolah yang tinggi agar menjadi seorang yang pintar, bukan untuk sebuah pekerjaan. Tak usahlah aku sekolah sampai ke jenjang perguruan tinggi kalau hanya ingin bekerja. Cukup dengan lulusan SD saja, lalu aku menjadi seorang kuli bangunan kalau hanya sekedar ingin mendapat pekerjaan.”

Pohon tua itu kembali menggerakkan daun-daunnya berirama. “Manusia yang aneh. Setahuku orang pintar minum tolak angin. Tetapi kenapa kau minum kopi?” Ledeknya semakin menjadi.

Tanpa membalasnya lagi aku segera beranjak dari tempat dudukku, dan pergi meninggalkan perbincangan itu. Bisa gila kalau obrolan ini diteruskan. Tanpa kusadari titik air mulai turun dari langit dan menyentuh wajahku.

Ah, sungguh malu aku dibuatnya. Tak sedikitpun aku berani menoleh ke belakang, karena ku tahu dia akan meledekku kembali karena sudah menang mutlak atas obrolan tadi. Apalagi rintik hujan kini mulai tumpah dari langit. Bisa tambah jumawa dia.

Cepat sekali harapanmu terkabul wahai makhluk tak berakal. Sedangkan aku, makhluk berakal yang masih saja menunggu terkabulnya akan sebuah harapan. Dari kejauhan sayup-sayup masih terdengar di telingaku pohon tua itu tertawa dengan pongahnya mengiringi kepergianku…

Iklan

20 Komentar

  1. alamendah said,

    (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Sebuah perenungan buat kita semua yang merasa sebagai makhluk yang paling sempurna.

  2. altov said,

    boleh2.. matur tengkyu sudi mampir..

  3. fanny said,

    wah, pohon juga tahu tolak angin toh? hehhee

    • altov said,

      iye..pohonnya pinter si, makanya dia kenal sama tolak angin… hahayyy

  4. Dilla said,

    Good story..tentang perenungan yang tiada habisnya…

    • altov said,

      matur tengkyu sudah singgah di sini…

  5. anla said,

    biarpun manusia itu makhluk yang paling sempurna, tapi tetap saja tidak ada manusia yang sempurna..
    🙂

    salam kenal ya,,,
    kunjungan balik… 🙂

  6. ridho's said,

    yah itu mah nasib lo sob, ga usah di sesali…

    ” buat apa sekolah tinggi-tinggi tapi begonya ga nambah-nambah ”

  7. drummerfan said,

    tulisan yg menarik tentang kesombongan 🙂

  8. darahbiroe said,

    kesombongan itu suatu hal yang sangat tidak berguna

    berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya lagi makasihh 😀

  9. helmy said,

    Ilmu bukan hanya untuk pekerjaan…(meskipun saya juga pernah berfikir seperti itu)
    pola pikir kita selalu mengajarkan kita semakin tinggi ilmu kita semakin tinggi jabatan

    karena di Islam sendiri menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban.

  10. helmy said,

    sory lagi ga nyambung =D

    • altov said,

      iy kang gpp.. memang pola pemikiran kyk gt sering kita temuin, karena selalu ditanam sama orang tua dulu yg masih berpikir kalo orang sekolah itu untuk bekerja..
      matur tengkyu yakk sudah mampir..

  11. quinie said,

    hm.. terus kepintaran dikau itu mau diapakan?

    • altov said,

      paling gak bisa ngajarin ke orang lain kan ilmu yg kita punya… dan itu sudah merupakan kebaikan toh.. kan ada pernyataan, ilmu yg tidak diamalkan bagaikan pohon yg tak berbuah…

  12. vinna said,

    hmmm.. mnurut gw sih yg bikin pinter bukan sekolah tp proses belajarnya..

    gw suka belajar, tp ga suka sekolah.. hehehe.. :mrgreen:

  13. eza said,

    nice post… salam kenal…

  14. dindaagustriyana said,

    beneran penjaga toilet … :))

  15. iphud said,

    salam kenal ya blacker…….. temen blog komptisi djarum nich 😀

  16. celoteh said,

    kita memang mahluk sempurna, tapi, gak juga kita bisa sok ngaku gitu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: