PENANTIAN…

November 29, 2010 at 5:03 am (Cinta) (, , , , )


Kita memang pernah bersama. Kita pun sering duduk bedampingan untuk
sekedar  berkeluh kesah dalam sebuah wacana bertajuk cinta. Dimana aku berperan sebagai orang yang bercerita dan dia menjadi pendengar setianya, atau terkadang sebaliknya.

Sudah lama kita tak pernah bersua. Semenjak tempat itu sudah tak
lagi beroperasi seperti sedia kala, memang frekuensi perbincangan kami
sedikit mulai berkurang, bahkan hampir dipastikan sangat jarang sekali. Dialah si gadis berkerudung yang selalu muncul di mimpiku.

Jangan kau tanya kenapa aku bisa menaruh hati kepadanya. Aku pun
tak mengerti.  Sama sekali tak pernah terbersit dari diriku untuk
merencanakan mencintainya. Ini terjadi begitu saja, Karena sejak
pertama kali memandangnya, kurasakan ada sesuatu yang berbeda.
Perasaan yang mungkin bisa dikategorikan atas nama ‘cinta’.

Agustus 2009… Dia pergi atas nama cinta. Pangeran dari negeri
China berhasil mengambilnya dari setiap pandangan mata. Tak ku lihat
lagi sejuk embun pagi yang menyejukkan mata dikala sang surya
bertengger dengan megahnya di ufuk timur, yang ada tinggallah awan
hitam yang berarak dan tersenyum menyeringai ke arahku.

Perubahan dari sikap pun terjadi begitu saja. Wajarlah terjadi,
karena tangan gemulai sang pujangga kelu, tidak dapat menari-nari di
atas papyrus tua untuk menuliskan bait syair yang indah kepada putri
Nirmala, padahal semua ide sudah ada di dalam kepala. Ini bukan
masalah ide yang tersusun rapih dalam kabinet memori otak, tetapi
lebih kepada keberanian untuk menggoreskan tinta pena.

Dari kejauhan terlihat gurauan canda ala pertunjukkan kabaret yang
menyilat hati. Kalau boleh jujur, aku sangatlah iri ketimbang
menikmati pertunjukkan itu. Untunglah secangkir kopi selalu menemani
di setiap sequence seperti ini. Paling tidak cukup menghibur hati yang
lara.

Bicara tentang kopi. Sebelumnya, gadis berkerudung itulah yang
kerap kali meracik dan menyuguhkannya untukku. Yaa, walaupun dengan
rasa yang sedikit aneh, tapi sangat kunikmati tiap tetes yang
menyelinap ke tenggorokan saat meneguknya.  Lagipula kulihat dia bahagia dengan pangeran itu. Aku melihatnya, dan kupikir memang pasangan yang serasi. Pantai pun menjadi saksi atas kejadian itu.

September  2010… Kapal kehilangan arah. Angin bertiup tak
beraturan, hanya menunggu keajaiban akan datang, dengan harapan kapal
dapat kembali melaju dengan tenang. Sudah hampir dua tahun kapal
terombang ambing oleh ombak lautan, menunggu kesempatan yang tak
pernah bertuan.

Keinginan untuk mengumpulkan serpihan-serpihan asa yang berserakan
tumbuh kembali. Bukan tanpa alasan, sang pangeran dari China tampak
telah mengacuhkan si gadis berkerudung. Apa mungkin ini memang
skenario yang telah disiapkan Tuhan.

Kini titik embun kembali terlihat di tiap pucuk rumput-rumput liar.
Kapal pun sudah kembali kepada jalurnya, berlayar dengan gagah
mengarungi samudera luas..

Saat ini kita (aku dan gadis berkerudung) kembali duduk bersama,
mengulangi masa-masa yang pernah terlewati. Mungkin kali ini berbeda.
Bukan lagi untuk berkeluh kesah seperti sedia kala, tapi lebih kepada
hal yang indah, yaitu mengenalnya. Sesaat kupandang gumpalan awan biru
di atas langit kota tua tersenyum ke arahku.

Ternyata mata ini masih diberi kesempatan untuk melihat sejuknya embun saat mengarungi samudera lepas. Sampai akhirnya tegur sapa pun tak pernah absen dari hari-hari kami. Aku tak akan pernah menyerah menunggu keajaiban untuk yang kedua kalinya, sampai akhirnya dia mau menjawab pertanyaanku. Mungkin hari ini, esok, atau lusa? Entah kapan..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: