The Grand Old Man

Mei 6, 2011 at 6:32 pm (Artikel) (, , , )


Wajahnya yang penuh keteduhan terbalut oleh kacamata setebal empat senti. Eksistansinya dalam perjuangan tak usah diragukan lagi. Sang diplomat ulung yang berjuang dengan kesederhanaan.

Suatu ketika pangeran Phillipe asal Inggris mengundang, dan ia sebagai utusan dari Indonesia datang untuk memenuhi undangan itu. Anehnya, sang pangeran tak mengenalnya, mungkin lantaran penampilannya yang jauh berbeda dari para bangsawan lain yang datang.

Pria renta itu lantas menyulut rokok kretek dari sakunya, lantas mengibas-ngibaskan asapnya ke arah sang pangeran.

Seketika pangeran terkesiap. “Tahukah kamu, aroma apa ini?” Tanya si pria renta tersebut. Sang pangeran mengernyitkan kedua alisnya sambil memperlihatkan wajah bingung karena tidak tahu.

“Baiklah, akan saya beritahu. Ini adalah aroma tembakau, dimana 300 sampai 400 tahun yang lalu bangsamu berbondong-bondong datang ke negeriku untuk mengambilnya.” Maka suasana pun menjadi mencair, sang pangeran mulai ramah meladeni tamunya.

Kesan orang kaya sudah tentu tak layak jika dilekatkan kepada dirinya. Bayangkan, bajunya walaupun bersih namun sudah terlihat lusuh dan hanya cukup untuk sekedar menutupi aurat yang hanya ia punya. Rumah pun hanya berteman cahaya lilin dikala malam menyapa.

Yang menarik dari  pria renta ini adalah perhatian yang besar terhadap keluarganya, meskipun ia tidak pernah menyekolahkan anaknya di sekolah formal. Pernah suatu ketika ia diwawancarai oleh seorang wartawan. Disela-sela sang wartawan bertanya, salah seorang anak pria renta itu, yang masih kecil datang menghampiri seraya menyapa sang ayah menggunakan bahasa Inggris. Serta merta si wartawan terhenyak.

“Anakmu pandai berbahasa Inggris padahal engkau tidak pernah menyekolahkannya di sekolah formal?”

Sambil tersenyum si pria renta menjawab, “Tahukah kamu? Kalau seekor kuda ingin bisa meringkik apakah harus sekolah di sekolah formal? Begitu juga dengan anakku. Kenapa harus kusekolahkan ia di sekolah formal jikalau aku sendiri bisa mengajarkannya.”

Kita sudah pasti mengenalnya, terlebih janggut dan kumis putih yang sudah menjadi ciri khasnya, yang juga pernah menjadi olok-olok Semaun temannya, di dalam sebuah forum bernama Sarekat Islam. Dialah H. Agus Salim, pria multi-languages, manusia merdeka. Merdeka dalam berhadapan dengan penjajah, merdeka dalam berurusan dengan keluarga, kerabat dan bangsanya sendiri. Merdeka dalam memilih lapangan pekerjaan, merdeka dalam berbusana (yang baik), merdeka dalam bersuara. Merdeka dalam bidang pendidikan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: