The Grand Old Man

Mei 6, 2011 at 6:32 pm (Artikel) (, , , )

Wajahnya yang penuh keteduhan terbalut oleh kacamata setebal empat senti. Eksistansinya dalam perjuangan tak usah diragukan lagi. Sang diplomat ulung yang berjuang dengan kesederhanaan.

Suatu ketika pangeran Phillipe asal Inggris mengundang, dan ia sebagai utusan dari Indonesia datang untuk memenuhi undangan itu. Anehnya, sang pangeran tak mengenalnya, mungkin lantaran penampilannya yang jauh berbeda dari para bangsawan lain yang datang.

Pria renta itu lantas menyulut rokok kretek dari sakunya, lantas mengibas-ngibaskan asapnya ke arah sang pangeran. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Romeo

Desember 18, 2010 at 6:42 pm (Artikel) (, , , , , , )

“Hati saya separuhnya kosong..” Itulah penggalan kalimat yang
keluar dari mulut rentanya. Cintanya tak pernah padam laksana api Olimpiade. Lidahnya tak pernah berhenti berucap untuk memuji keindahannya.

Itu terlihat dari binar matanya, tiap kali memandangi foto sang istri. Kini
ia terdiam, tatapannya lurus ke depan, seolah menerawang menembus waktu, memutar memori tentang pertemuan itu.

Mereka memang satu sekolah. Satu sama lainnya pun mempunyai kemampuan mencerna pelajaran lebih baik ketimbang anak-anak lainnya, terutama pelajaran ilmu pasti, terlebih lagi sang guru acap kali menjodohkan kedua insan itu. Baca entri selengkapnya »

Permalink 2 Komentar

00:48

November 4, 2010 at 5:58 pm (Artikel) (, , , , )

Tuhan… aku takut mata ini tidak lagi bisa melihat saat matahari menyemburatkan sinarnya di antara celah-celah jendela kamarku esok hari.

Tuhan…aku pun takut tangan ini tak lagi dapat menyentuh semua benda di sekelilingku, ketika ku ingin merasakan wujudnya.

Tuhan… aku bahkan lebih takut disaat jantung ini tak lagi berdetak, belum kupenuhi semua janjiku kepadanya.

Tapi Tuhan, apakah aku pernah mengeluh dengan apa yang Kau berikan padaku saat ini walaupun itu pahit. Aku tak pernah meragukan kekuasaan-Mu yang maha besar. Baca entri selengkapnya »

Permalink 2 Komentar

Aku dan Pohon Tua Itu

Januari 26, 2010 at 7:50 pm (Artikel) (, , , , , , , , )

Kilat mulai menyambar dengan dasyatnya. Tapi tak juga kujumpai tetesan air yang turun dari langit, padahal aroma khas tanah basah sudah menyelinap kedalam hidungku. Lalu, kupandangi pohon tua tepat di hadapanku, seraya meledek ke arahnya. “Hmm, pasti kau sedih karena air hujan yang kau tunggu tak kunjung turun. Sudahlah, itu memang sudah nasibmu. Sekarang tinggal kau tunggu saja orang yang sudi menyirammu.”

Kuteguk kopi hitam yang sudah mulai dingin di cangkir usang tepat di sampingku. Minuman yang kini menjadi teman setia dikala malam tiba. Kembali ku hisap dalam-dalam rokok yang sempat tak kuperhatikan keberadaanya, sambil kembali menoleh ke arah pohon tua yang sedang sedih itu dengan rasa sesal. Baca entri selengkapnya »

Permalink 20 Komentar

Bukit Impian Pemulung Jalanan

Oktober 20, 2009 at 10:40 pm (Artikel) (, , , , , , , )

20090701133222605

Aku bukan hewan buruan… kenapa kalian selalu mengejar kami wahai serdadu-serdadu

Aku bukan pencuri… kenapa kalian selalu membayangi setiap langkahku…

Hanya itu yang bisa ia teriakkan dalam hatinya. Tanpa memperdulikan luka menganga di sekujur kakinya, dia menggenggam tangan mungil itu erat-erat dengan langkah setengah berlari. Dari kejauhan terdengar lengkingan peluit petugas memecah keheningan malam. Ya, ini sudah yang kesekian kalinya sejak peraturan itu ditetapkan. Sungguh merupakan tamparan keras bagi mereka para pemulung jalanan. Apakah ini salah mereka sehingga menggantungkan hidupnya dengan cara seperti itu?

Tidaklah ada orang yang terlahir dan besar di dunia memiliki cita-cita dan pekerjaan untuk menjadi seorang pemulung jalanan. Semua akan mengatakan terpaksa menjalani pekerjaan tersebut. Apakah jalan yang mereka pilih merupakan sebuah kejahatan, sehingga harus diburu bagai binatang liar. Baca entri selengkapnya »

Permalink 39 Komentar

Jangan Kau Bohongi Aku Lagi

Oktober 9, 2009 at 11:29 am (Artikel) (, , , , , )

onani

Kenapa kau membohongiku wahai manusia laknat. Kenapa tak kau simpan saja semua itu untuk waktu yang tepat. Wajahmu yang ekspresif, belaianmu yang lembut, dan irama tiap detak jantungmu selalu membiusku larut dalam kemunafikan.

Mereka bilang kau makhluk sempurna. Tercipta lengkap dengan akal dan budi yang menjadi parameter tiap langkah yang akan kau pilih. Tapi apa nyatanya? Apakah mungkin Tuhan-mu salah dalam penciptaanmu, sehingga akal dan budi itu tak bekerja sebagaimana mestinya? Ku rasa itu tidak mungkin. Baca entri selengkapnya »

Permalink 29 Komentar

Next page »