The Grand Old Man

Mei 6, 2011 at 6:32 pm (Artikel) (, , , )

Wajahnya yang penuh keteduhan terbalut oleh kacamata setebal empat senti. Eksistansinya dalam perjuangan tak usah diragukan lagi. Sang diplomat ulung yang berjuang dengan kesederhanaan.

Suatu ketika pangeran Phillipe asal Inggris mengundang, dan ia sebagai utusan dari Indonesia datang untuk memenuhi undangan itu. Anehnya, sang pangeran tak mengenalnya, mungkin lantaran penampilannya yang jauh berbeda dari para bangsawan lain yang datang.

Pria renta itu lantas menyulut rokok kretek dari sakunya, lantas mengibas-ngibaskan asapnya ke arah sang pangeran. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Romeo

Desember 18, 2010 at 6:42 pm (Artikel) (, , , , , , )

“Hati saya separuhnya kosong..” Itulah penggalan kalimat yang
keluar dari mulut rentanya. Cintanya tak pernah padam laksana api Olimpiade. Lidahnya tak pernah berhenti berucap untuk memuji keindahannya.

Itu terlihat dari binar matanya, tiap kali memandangi foto sang istri. Kini
ia terdiam, tatapannya lurus ke depan, seolah menerawang menembus waktu, memutar memori tentang pertemuan itu.

Mereka memang satu sekolah. Satu sama lainnya pun mempunyai kemampuan mencerna pelajaran lebih baik ketimbang anak-anak lainnya, terutama pelajaran ilmu pasti, terlebih lagi sang guru acap kali menjodohkan kedua insan itu. Baca entri selengkapnya »

Permalink 2 Komentar

PENANTIAN…

November 29, 2010 at 5:03 am (Cinta) (, , , , )

Kita memang pernah bersama. Kita pun sering duduk bedampingan untuk
sekedar  berkeluh kesah dalam sebuah wacana bertajuk cinta. Dimana aku berperan sebagai orang yang bercerita dan dia menjadi pendengar setianya, atau terkadang sebaliknya.

Sudah lama kita tak pernah bersua. Semenjak tempat itu sudah tak
lagi beroperasi seperti sedia kala, memang frekuensi perbincangan kami
sedikit mulai berkurang, bahkan hampir dipastikan sangat jarang sekali. Dialah si gadis berkerudung yang selalu muncul di mimpiku. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Atas Nama Kasta

November 24, 2010 at 12:37 pm (Sosial) (, , , , , )

Dia bagaikan budak di mata majikannya, dan bebas diperlakukan dengan
semena-mena. Mungkin ini lantaran sebuah istilah yang bernama kasta,
sehingga sangat terasa jelas perbedaan strata antara aku, dia, dan
mereka.

Hidupnya tak hanya bermodalkan tenaga, meskipun kehadiran dirinya
hanya lantaran menjual jasa tenaga. Tapi paling tidak dia masih
mempunyai harga diri. Ya, hal tersebut yang membuatnya merasa berharga di mata mereka. Dan Ini bukan sekedar  antara aku, kau, dia, dan mereka, Ini antara kita semua. Baca entri selengkapnya »

Permalink 1 Komentar

Save Our Brother

November 23, 2010 at 9:34 am (Sosial) (, , , , )

Seketika batu raksasa itu murka menyemburkan isinya, cairan yang
sangat panas. Padahal, belum kering lidah ini mengucap rasa prihatin
yang mendalam bagi saudara kita di Wasior. Belum usai getaran yang
sangat dahsyat menggoncang Mentawai. Dan belum surut air menggenangi tiap sudut Ibu Kota, tapi seketika itu pula jerit tangis kembali menggema seantero negeri tercinta. Baca entri selengkapnya »

Permalink 1 Komentar

00:48

November 4, 2010 at 5:58 pm (Artikel) (, , , , )

Tuhan… aku takut mata ini tidak lagi bisa melihat saat matahari menyemburatkan sinarnya di antara celah-celah jendela kamarku esok hari.

Tuhan…aku pun takut tangan ini tak lagi dapat menyentuh semua benda di sekelilingku, ketika ku ingin merasakan wujudnya.

Tuhan… aku bahkan lebih takut disaat jantung ini tak lagi berdetak, belum kupenuhi semua janjiku kepadanya.

Tapi Tuhan, apakah aku pernah mengeluh dengan apa yang Kau berikan padaku saat ini walaupun itu pahit. Aku tak pernah meragukan kekuasaan-Mu yang maha besar. Baca entri selengkapnya »

Permalink 2 Komentar

Next page »